Tuesday, July 24, 2012

Aduhai sastra, jangan tinggalkan aku

aku mengoleksi ribuan kata, mengindahkannya, menambah,
membiusnya, memoles atau menyamarkannya.
aku mampu meperpanjangnya hingga puluhan bahkan ratusan kalimah.
tanpa syarat, deadline, kehendak, atau campur tangan lainnya,
semata suara jiwa dan kesenangan.
tanpa memandang keindahan, keperluan, atau kewajiban.
tiada tuntutan, melainkan hanya suara. lantunan. gumaman.
ungkapan yang tak perlu kebenaran. pengertian atau pemahaman.
tanpa target tanpa mengejar kekayaan.
tapi kebahagiaan jiwa hakiki, karena tak hanya didengar
tapi juga dirasakan.

betapa bangganya saat kudengarkan,
betapa memilukan, betapa senang
betapa gemericik di dada, terasa kesemutan sampai ke muka.
atau memngernyitkan dahi.
iklas berekspresi saat ku membaca.

tak jarang aku rela menetes air mata,
bukan sakit dibadan.
dan tak jarang aku tertawa,
bukan geli nyata.
atau kadang merenung dan murung sendiri,

karena semuanya adalah refleksi
tak lain pantulanku sendiri.
walau dia bisu, tapi dikedalaman hati, dialah yang paling jujur.
tak pernah aku dapat menyangkal bila ku bicara dalam hati.
dan tak pernah ada disiplin ilmu yang bisa menyalahkanku.
termasuk ibu bapaknya bahasa tak bisa menyinggung dan menyentuh.
bersama dia aku bebas.
semaunya.
aku hidup.
lebih dari sekedar bernapas.
bahagia dalam diam
lebih dari sekedar tertawa.

Ia menghargai setiap apa yang kutoreh, tanpa bantah.
apa yang kubenci tanpa memihak.
dan apa yang kusuka tanpa menguranginya.
aku bisa saja tak berhenti memikirkannya. begitu juga ia.
bahkan saat terlupakan oleh keseharian, dia tak pernah menuntut.
tak pernah minta balasan.

tiap liburan dan waktu senggang, aku lebih suka tidur sepanjangan, mematikan pergerakannya.
dan ironisnya, bertahun-tahun sampai sekarang, kutelusuri di semua halaman buku,
kutemui semua pembaca pikiran, kumasuki dunia semua dunia
membuka wawasan.
kuteliti sampai pinggir jalanan.
kupikirkan hingga semalaman,
aku cari dan terus kucari.
aku pahami sekuat-kuatnya membuka pintu hati.
aku tak juga menyadarinya.
kalau dialah bakat,
dialah BISIKAN jiwa,
dialah panggilan hidup,
dan dialah karunia yang semestinya aku kembangkan selama ini.
aku rawat, aku jaga, aku pelihara, aku turuti
aku manjakan. aku segalanya
dan aku iya kan.

tapi apa yang kulakukan?
semestinya aku lebih indigo kepadamu
tapi aku lebih memilih memainkan jari didepan objek mati biar dikata pintar,
menggantung hidup dan masa depan pada kecerdasan buatan yang memfatwa tuntutan zaman.
pada tingkat kemampuan dan kesenangan
yang dirancang dan diperuntukkan orang yang menyukainya.
padahal bukan aku.

aku menyukaimu, tapi kau kukesampingkan.
aku sanggup menulismu, tapi pikiranku pada permainan.
padahal engkau pun tak kalah menyenangkan,
dikala duka, kau melisan tanpa ku pinta.

aku tak harus menjadi Shakespears, Kahlil gibran, Jalalludin rumi.
tapi demi diriku, suara hati, dan antusias jiwa,
aku janji akan menjadi J.K Rowling, Gosho Aoyama, Lee Myung Jin atau Andrea Hirataku sendiri.
walau ku tahu kelak, kertas dan buku akan menjadi barang langka untuk dibaca tua muda di zaman robotika.
tapi aku yakin, semakin langka, bukan hanyamakin mahal harganya, tapi tinggi apresiasinya.

Baca dan baca itu perintah Tuhanku, perintah dan wahyu-Nya pertama ke pada umat manusia.
dan aku yakin dalam apapun bentuknya, sampai akhir masa. akan tetap ada yang mengamalkannya

sastra
SASTRA...
SASTRA!!!!!
maafkan aku.
jika sesosok mahluk, mungkin kau membenciku.
tapi kumohon jangan tinggalkan aku.
karna siapa lagi yang bisa memuaskan hasratku
tempatku mengamuk
dan menuangkan segala susah hatiku

@};-'--,--- @};-'--,--- @};-'--,---   ---'--,-;{@ ---'--,-;{@ ---'--,-;{@

Sekarang lagi minggu-mginggunya di-GALAU-in oleh puisi, entah kenapa RAMADHAN bikin JUN melo ^^

No comments:

KOMENTAR TERAKHIR